December 28th, 2007 by b1ue
| 28 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: Pengkhotbah 4:7-12 |
| Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya,… - Pengkhotbah 4:10 |
Beberapa waktu lalu saya menangani konseling dengan orang yang
sedang bermasalah. Ada hal menarik dari setiap konseling yang saya
tangani, yaitu mereka merasa tidak mempunyai teman dan merasa
sendirian. Memang benar bahwa hidup akan jauh lebih berat kita dijalani
sendirian saja. Ketika kita berlari sendirian saat masalah datang
menghadang, rasanya kita sedang berlari menabrak tembok batu yang tak
mungkin bisa dilewati.
Belum lagi kita harus menelan sebuah kenyataan pahit, bahwa kita
juga sering terpukul jatuh dalam hidup ini. Saat itulah harusnya kita
tahu bahwa kita selalu membutuhkan orang lain untuk mengangkat dan
mengembalikan kita ke jalan menuju sukses. Kita membutuhkan orang lain,
khususnya saudara-saudara seiman. Tanpa mereka, maka saat kita jatuh
tidak akan pernah ada tangan yang terulur untuk mengangkat kita dari
keterpurukan.
Jika Anda adalah seorang pemilik perusahaan, atau profesional yang
bekerja di tempat yang tidak banyak interaksi dengan saudara seiman,
akan lebih baik kalau kita bisa membentuk sebuah komunitas orang
percaya untuk berdoa bersama dan saling mendukung. Komunitas ini akan
sangat berguna untuk memberikan motivasi, menjadi penyemangat dan
menjadi bahan pertimbangan ketika kita harus mengambil
keputusan-keputusan penting.
Begitu menyedihkan ketika melihat seseorang jatuh dan tak ada yang
mengangkatnya. Begitu menyedihkan ketika melihat seseorang tersandung
dan tak ada yang mengingatkan sebelumnya. Begitu menyedihkan melihat
seorang yang gagal, terpuruk dalam keputusasaan, tanpa ada orang yang
memberikan semangat dan membesarkan hatinya.
Hal yang tidak perlu terjadi seandainya kita memiliki sahabat atau
komunitas yang dekat dengan kita. Bukankah indah melihat tangan-tangan
terulur bagi mereka yang jatuh? Bukankah indah ketika melihat beberapa
orang memberikan semangat kepada mereka yang letih, lesu, berbeban
berat dan terpuruk dalam kegagalan? Sesungguhnya hal ini adalah
kehendak Tuhan bagi kita semua, saling peduli dan saling memperhatikan
saudara seiman.
Bergabunglah dengan komunitas yang membuat Anda bertumbuh di dalam Tuhan
(Hans)
» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit
Posted in Religion | No Comments »
December 28th, 2007 by b1ue
| 27 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: Mazmur 90:1-17 |
| Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati bijaksana.- Mazmur 90:12 |
Pada suatu liburan, kami sekeluarga menyempatkan untuk menginap di
suatu tempat wisata beberapa hari. Hal yang jarang kami lakukan, karena
masing-masing memiliki aktifitas yang cukup menyibukan kami. Pada hari
kedua dari liburan itu, saya sudah merasa bosan. Mungkin karena saya
sudah biasa sibuk, maka waktu-waktu istirahat justru menyiksa. Namun
ada satu hikmah yang saya dapatkan, yaitu dengan cara inilah saya bisa
mengevaluasi tentang apa saja yang telah saya lakukan selama tiga puluh
hari terakhir ini. Berapa banyak waktu telah saya habiskan di tempat
kerja dan berapa banyak waktu telah saya curahkan bagi keluarga, teman
dan berapa banyak waktu saya berdua saja dengan Allah?
Dengan mengevaluasi diri, maka kita akan tahu apakah selama ini kita
berlari terlalu cepat dan terlalu jauh, ataukah sebaliknya kita tidak
berlari sama sekali, kalaupun berlari mungkin kita hanya berlari di
tempat saja. Apakah selama ini kita cukup seimbang? Ataukah selama ini
waktu kita hanya tersita untuk hal-hal tertentu saja, sehingga hidup
kita jauh dari kata seimbang?
Kita memang perlu berlari dalam pekerjaan kita, tetapi seorang
pelari dengan prestasi dan kondisi yang paling baik sekalipun toh masih
memerlukan waktu untuk berhenti dan beristirahat. Untuk mempertahankan
keefektifan hidup kita, hendaknya kita hidup dalam keseimbangan, dengan
mengetahui kapan waktu untuk berlari dan kapan waktu untuk
beristirahat. Jika hidup kita berderap lepas kendali, sebaiknya kita
berhenti sejenak. Luangkan waktu untuk memulihkan keseimbangan.
Di penghujung tahun ini, marilah kita koreksi dan evaluasi hidup
kita. Apa-apa yang sudah kita kerjakan selama setahun ini? Petiklah
pelajaran berharga dari kegagalan yang kita alami, maupun keberhasilan
yang sudah kita raih. Kalau memang kita mendapati bahwa selama setahun
ini kita tidak maksimal, baiklah kita mencari tahu apa yang membuat
hidup kita tidak efektif dan tidak maksimal. Apakah karena selama ini
kita tidak menjaga keseimbangan dalam hidup kita? Sebagai bekal untuk
menhadapi tahun baru yang sebentar akan kita jelang, miliki waktu untuk
menjaga kseimbangan hidup dengan keluarga, teman, dan menciptakan saat
teduh yang menyenangkan bersama Tuhan.
Lakukan evaluasi hidup selama setahun yang sudah kita jalani.
Posted in Religion | No Comments »
December 28th, 2007 by b1ue
| 26 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: I Samuel 16:1-13 |
| Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.- I Samuel 16:7 |
Ketika berniat membeli sebuah pulpen di sebuah toko buku, saya
bingung karena banyak sekali pilihan yang ada. Dari merk, warna, bentuk
dan kemasan sangat beragam. Akhirnya saya menentukan sebuah pulpen yang
agak mahal karena bentuknya yang indah dan terasa nyaman di tangan
saya. Saya memakainya untuk keperluan menulis dan mencatat hal-hal
penting.
Tapi, sesudah beberapa hari kemudian saya mendapatkan masalah.
Ketika saya pakai untuk menulis, di awal tulisan tinta yang keluar
sangat tajam, tetapi beberapa saat kemudian tintanya terus memudar
sampai akhirnya berhenti. Dari kejadian tersebut saya diingatkan
kembali, bahwa isi pulpen lebih penting dari pada bentuknya yang indah,
atau hanya sekedar kenyamanannya untuk menulis.
Demikian juga dengan tubuh manusia. Bagian dalam tubuh kita lebih
penting dari pada bagian luarnya, karena bagian dalam kita mempengaruhi
apa yang kelihatan diluar kita. Tetapi kencerungan kita lebih
memperhatikan tubuh bagian luar kita dari pada tubuh bagian dalam. Kita
sering memperhatikan baju, celana, aksesori dan segala bentuk benda
yang dapat membuat kita lebih tampil menarik. Saya tidak sedang
mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh, tetapi alangkah indahnya
jika kita lebih dahulu memperhatikan apa yang ada di dalam kita.
Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.
Hati selalu menjadi tempat tujuan Tuhan dalam menilai kita. Kalau kita
bisa menipu orang dengan tubuh bagian luar kita, kita tidak bisa menipu
Tuhan karena Dia mengenal hati kita. Tuhan lebih mementingkan tubuh
bagian dalam kita daripada tubuh bagian luar kita.
Dengan merenungkan firman Tuhan secara teratur, pikiran dan roh kita
akan di perbaharui, semakin hari semakin berkenan bagi Tuhan. Memuji
dan menyembah Tuhan, bagun kehidupan doa. Ini merupakan hiasan manusia
batiniah yang indah di mata Tuhan, tentu saja belajar percaya untuk
melakukan firman menjadi bagian di dalamnya. Ini sangat berharga dimata
Tuhan, jadi ukurannya bukan manusia yang melihat, tapi biar Tuhan yang
melihatnya. Ingat, seberapa bagusnya bagian luar pulpen, bagian
dalamnya lebih berguna.
Ambillah keputusan untuk mendandani manusia rohani kita lebih daripada lahirah kita.
(Kwik)
Posted in Religion | No Comments »
December 28th, 2007 by b1ue
| 24 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: Matius 25:31-46 |
| Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan… - Matius 25:37 |
Begitu sulitnya menemukan Tuhan, demikianlah banyak orang religius
berkata. Itu sebabnya untuk mencari Tuhan banyak orang pergi ke
gua-gua. Berpikir bahwa di tempat yang sunyi sepi maka mereka akan
menemukan Tuhan. Hanya dengan menyendiri dan mengasingkan diri dari
dunia ini, maka barulah manusia akan menemukan Tuhan. Setujukah Anda
dengan pendapat ini? Banyak dari antara kita mungkin tidak sepaham
dengan pendapat itu. Karena kita berpikir kalau mencari Tuhan tempatnya
adalah di gereja. Hanya hal yang mengherankan kadangkala terjadi, kita
sepertinya juga tidak menemukan Tuhan di gereja. Lalu dimanakah Tuhan?
Kapan Ia menyatakan diriNya kepada kita.
Kita mencari Tuhan, padahal Tuhan ada dimana-mana. Bukankah Tuhan
adalah maha hadir? Tuhan juga selalu menyatakan diriNya kepada kita.
Setiap saat kita melihatNya. Hanya karena mata hati kita buta, maka
kita tidak melihatnya. Setiap saat sebenarnya kita merasakannya. Hanya
karena kulit kita telah menebal, maka kita tidak peka dan tidak
merasakanNya.
Kita mencari Tuhan di gereja yang bersih, padahal kadangkala Tuhan
bisa dijumpai di tempat-tempat yang kumuh dan kotor. Kita mencari Tuhan
di tempat yang mewah, padahal kadangkala Tuhan berada di kolong
jembatan. Ingin saya sebutkan lebih spesifik? Tuhan berada di rumah
sakit, kamar isolasi tepatnya dengan tulisan cukup jelas untuk dibaca :
penderita AIDS. Tuhan kadangkala menyatakan diriNya sebagai seorang
pengemis yang kelaparan dan kehausan. Tuhan kadangkala menyatakan
diriNya sebagai orang asing yang tak punya tumpangan. Bahkan kadangkala
Tuhan menyatakan diriNya di dalam penjara.
Bukankah Matius 25 tentang penghakiman terakhir menyatakan semuanya
itu dengan jelas? Ya, Tuhan seringkali menyatakan diriNya di dalam diri
orang yang dibuang dan terpinggirkan. Ibu Teresa berjumpa dengan Tuhan
ketika ia menyusuri lorong-lorong kumuh Calcuta dan merawat mereka yang
terabaikan dengan kasih. Lady Diana berjumpa dengan Tuhan ketika ia
memberikan sentuhan penuh kasih kepada mereka yang menderita kusta.
Apakah kita juga ingin berjumpa dengan Tuhan? Buka mata hati kita.
Pertajam kepekaan kita. Bagikan kasih kepada mereka yang terabaikan,
saat itulah kita akan menemukan Tuhan.
Bagikan hidup kita kepada orang-orang yang menderita dan terabaikan.
(Kwik)
» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit
Posted in Religion | No Comments »
December 28th, 2007 by b1ue
| 21 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: Keluaran 16:1-3 |
| Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. - Roma 6:14 |
Hari ini saya ingin mengajak Anda untuk melihat saat-saat bangsa Israel
dilepaskan dari penjajahan bangsa Mesir. Waktu itu mereka baru saja
bersorak-sorai melihat kedahsyatan mujizat Tuhan yang membelah laut
Teberau. Sungguh pengalaman yang spektakuler! Namun beberapa saat
kemudian setelah mereka mengalami perbekalan yang kian menipis,
mulailah sifat asli mereka muncul. Mereka tidak melihat bahwa kebebasan
merupakan hal yang jauh lebih baik daripada hidup sebagai bangsa
tertindas. Dan apa yang mereka ucapkan? Lebih baik mati di tanah Mesir
sebagai budak dengan perut kenyang menghadap kuali berisi daging,
daripada menghidup udara kebebasan namun dengan perut lapar!
Kita mungkin bisa mentertawakan kebodohan pilihan mereka itu. Namun
bisa dipahami, itulah mentalitas seorang budak. Dia lebih merasa nyaman
hidup dibelenggu namun merasakan sedikit kenikmatan dari belas kasihan
tuannya daripada harus bersusah payah bekerja dengan mandiri.
Bila kita mau jujur, seringkali anak Tuhan yang telah merdeka pun
bersikap seperti seorang budak. Kita mulai dari contoh yang sepele
saja. Banyak orang bukan makan untuk hidup melainkan hidup untuk makan.
Baginya tak peduli kadar kolesterol tinggi, yang penting kenikmatan
yang didapat darinya. Tanpa disadari makanan telah menguasai hidupnya.
Tak sedikit pula orang yang hidup dikuasai hawa nafsu seksualnya.
Sesaat dirinya bisa lupa akan dosa, yang penting hasratnya
terlampiaskan. Bagaimana dengan uang? Tak peduli banyak atau sedikitnya
uang dalam dompet, ia bisa membuat kita terikat olehnya. Apalagi di
saat krismon yang tak kunjung selesai ini, uang bisa jadi menjadi fokus
utama hidup manusia. Emosi atau perasaan juga bisa tanpa disadari
menguasai hidup kita. Saat sedang mood, kita bisa sangat antusias
dengan pelayanan. Namun jangan ditanya saat ‘lagi bete’ untuk datang
beribadah pun rasanya malas bukan main.
Anda dan saya adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan oleh
Kristus. Seharusnya kita tak lagi hidup dibawah perbudakan dosa. Tak
ada yang dapat mengikat kita selain Kristus, yang telah memiliki kita.
Tak ada kuasa yang sanggup lagi membelenggu kita kecuali kita memberi
diri untuk dibelenggu olehnya. Keputusan tetaplah di tangan Anda!
Lepaskanlah diri Anda dari belenggu perbudakan.
(TMS)
» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit
Posted in Religion | No Comments »
December 28th, 2007 by b1ue
|
 |
| Bacaan: Roma 5:12-21 |
| Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang,demikianlah maut itu telah menjalar - Rm 5:12 |
Saya tahu pasti bahwa Anda punya pengalaman seperti saya. Hal
sederhana kok, hanya soal bagaimana mengkancingkan baju. Jika saya
terburu-buru, kadangkala hasil kancingan saya kacau, miring sebelah.
Kancing pertama saya masukkan ke lobang kedua, kancing kedua saya
masukkan ke lobang ketiga, dan seterusnya, sampai akhirnya saya harus
melepas kembali kancing yang sudah terpasang dan mengulanginya dari
awal. Lalu bagaimana supaya kita terhindar dari hal itu? Pastikan
kancing pertama harus dikancing dengan baik dan tepat, maka kancing
yang berikutnya akan mengikut.
Hidup pun kadangkala sesederhana itu. Jika kita mengawali hidup
dengan sesuatu yang benar, maka jalan kita akan benar untuk
selanjutnya. Tapi sebaliknya, jika kita mengawali hidup dengan sesuatu
yang salah, maka jalan kita berikutnya akan salah dan akan terus salah
sampai kita menyadari bahwa dari start pertama kita sudah melakukan
kesalahan!
Bukankah saya pernah memberi contoh yang sederhana tentang sebuah
kebohongan. Bahwa kebohongan yang pertama akan memaksa kita melakukan
kebohongan yang kedua, dan kebohongan-kebohong an berikutnya. Atau
kadangkala kita harus dipusingkan dengan satu hutang yang membuat kita
gali lobang dan tutup lobang. Kita mendapat penghasilan untuk membayar
hutang kita yang pertama, dan untuk memenuhi kebutuhan yang sekarang
maka kita akan hutang lagi. Seperti lingkaran setan yang tak ada
habisnya.
Hal-hal sederhana ini kiranya cukup memberikan kita pelajaran
berharga bahwa kita harus hati-hati dalam hidup ini. Jika kita sedang
membangun menara yang miring karena memang sudah melakukan kesalahan
sejak saat awal membangun, tak ada pilihan lain kecuali kita
menyetopnya. Nekat membangun hanya akan menara miring itu akan semakin
miring dan akan runtuh pada akhirnya. Demikian juga halnya dengan dosa
maupun kesalahan yang kita buat sejak awal. Berhenti dan baiklah kita
mau bertobat. Konsekuensinya mungkin kita akan membangun semuanya lagi
dari awal, tapi itu jauh lebih baik daripada melihat “menara” kehidupan
kita runtuh dan hancur pada akhirnya. Tuhan selalu memberi kesempatan
kepada kita untuk “mengkancingkan baju” dengan benar.
Stop untuk pembangunan menara kehidupan yang miring.
(Kwik)
» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit
Posted in Religion | No Comments »
December 27th, 2007 by b1ue
| 18 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: Matius 9:9-13 |
| Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.- Matius 9:12 |
Ketika saya mengajak beberapa orang untuk kembali lagi kepada Tuhan
dan mengajaknya ke gereja, terlalu sering saya menerima jawaban yang
hampir sama, yaitu merasa dirinya kotor, jahat, tidak baik sehingga
tidak layak untuk bertemu dengan Tuhan. Lalu biasanya disambung dengan
kalimat ini, “Kelak kalau moral saya sudah baik saya akan pergi ke
gereja dan mencari Tuhan.” Menurut saya ini adalah jawaban yang sangat
konyol. Untung saja Tuhan Yesus sudah memprediksi alasan-alasan konyol
yang akan dilontarkan manusia pada abad ini, sehingga Yesus pun
berkata, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang yang
sakit.”
Manusia cenderung memiliki pandangan yang salah tentang gereja.
Menganggap bahwa gereja tentu berisi orang-orang yang suci, rohani dan
tak bisa berbuat dosa lagi. Apakah keadaan gereja memang seperti itu?
Saya justru berpikir sebaliknya. Gereja lebih mirip seperti rumah
sakit, yang merawat orang-orang sakit dan membuatnya sembuh. Namanya
saja rumah sakit, tentu yang pergi ke sana atau yang rawat inap adalah
orang yang sakit. Kalau sehat, masakan ia akan pergi ke rumah sakit?
Atau boleh juga kita menganggap bahwa gereja itu mirip bengkel,
memperbaiki mereka yang rusak dan membuatnya menjadi baik kembali.
Namanya saja bengkel, tentu saja yang ada di situ adalah barang-barang
yang rusak. Kalau sudah baik tentu tidak perlu dibawa ke bengkel, bukan?
Yesus tidak mencari mereka yang sehat, Yesus mencari mereka yang
sakit. Yesus tidak mencari mereka yang benar, Yesus mencari orang
berdosa. Gereja pun seperti itu. Gereja adalah jawaban bagi mereka yang
sakit, kecewa dan yang hatinya luka. Gereja menjadi jawaban bagi mereka
yang merasa dirinya berdosa dan tak layak. Gereja menjadi jawaban bagi
mereka yang merasa hilang harapan dan bingung dengan arah tujuan hidup.
Bahkan gereja adalah tempat untuk membebaskan mereka yang terikat dan
tertawan. Gereja adalah tempat operasi, yang buta rohani dicelikkan.
Yang mati rasa, dibuat kembali peka. Yang tuli, dibuat kembali
mendengar.
Jadi jangan sampai kita gagal menghampiri Tuhan hanya karena merasa
diri tak layak masuk ke gereja. Di sisi lain, gereja Tuhan pun tak
boleh mengeklusifkan diri dan membuka pintu hanya bagi orang yang
baik-baik saja. Marilah kita sama-sama belajar dari Yesus tentang
esensi gereja yang sebenarnya.
Bukalah pintu hati kita lebar-lebar bagi mereka yang tersesat, terhilang, dan yang sakit.
(Kwik)
» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit
Posted in Religion | No Comments »
December 16th, 2007 by b1ue
| 17 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: Amsal 3:5-8 |
| Percayalah kepada Tuhan… jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri.- Amsal 3:5 |
Ban yang bocor sungguh menyebalkan. Itu berarti kita harus
mengeluarkan perlengkapan pengungkit, menurunkan ban cadangan dari
bagasi dan berkotor ria hanya untuk mengganti ban yang sedang bocor
itu. Kalau kita naik motor, maka kita harus susah payah menuntun motor
kita ke tukang tambal terdekat. Bagaimana jika ban yang bocor itu
membuat kita terlambat? Tentu kita akan semakin jengkel lagi. Meski
demikian, Domingo Pacheco tak akan pernah menyesali ban mobilnya yang
bocor dan yang membuat ia ketinggalan pesawat. Mengapa? Karena tak
berapa lama kemudian pesawat yang harusnya ditumpanginya yakni Valujet
592 mengalami kerusakan mesin dan jatuh di Everglades pada tanggal 11
Mei 1996! Andai saja ban mobil Pacheco tidak bocor, tentu namanya akan
tercatat sebagai korban kecelakaan.
Kita kadangkala tidak tahu bahwa ada keuntungan-keuntung an positif
dari masalah-masalah yang tiba-tiba saja bermunculan. Ketika masalah
mulai terjadi dan semuanya berjalan tak beres, ada kalanya kita perlu
berpikir sejenak, apa maksud Tuhan di balik semuanya ini. Apakah hal
itu benar-benar buruk, ataukah itu sebenarnya bagian dari rencana Tuhan
yang terbaik bagi kita? Jika kita selalu melihat dengan cara pandang
seperti ini, kita tidak gampang mengeluh, menggerutu, merasa frustasi,
depresi dan stress ketika masalah yang tak diharapkan muncuk ke
permukaan.
Bukanlah apa yang terjadi kepada Anda, tetapi bagaimana Anda
menangani apa yang terjadi kepada Anda, itulah yang menentukan!
Demikian Zig Ziglar,
seorang motivator terkemuka berujar. Benar kata Ziglar bahwa yang
menentukan hidup kita bukanlah sebuah keadaan, termasuk keadaan seburuk
apapun juga, melainkan bagaimana kita memiliki cara pandang terhadap
situasi buruk tersebut. Jika kita menangani setiap masalah dengan
kerangka pikir positif, penuh dengan sikap optimis dan iman kepada
Kristus, maka masalah apapun juga akan mendatangkan kebaikan bagi kita
pada akhirnya.
Apakah hari ini kita sedang menghadapi masalah yang tak diharapkan?
Jangan biarkan itu merusak kebahagiaan kita. Jangan biarkan masalah itu
memunculkan kegetiran. Sekali lagi, bukanlah apa yang terjadi kepada
kita, tetapi bagaimana kita menangani apa yang terjadi kepada kita,
itulah yang menentukan!
Beranikah kita punya iman yang positif di saat masalah yang tak diharapkan mulai bermunculan?
Posted in Religion | No Comments »
December 13th, 2007 by b1ue
| 14 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: Amsal 15:3, Kolose 3:22-25 |
| Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.- Amsal 15:3 |
Seorang majelis yang sedang berkunjung ke bar sangat takut ketika ia
melihat dari jendela bar bahwa pendetanya melihat mobil yang
diparkirnya persis di depan bar. Ia pun berkata, “Aku berharap Pak
pendeta tidak melihat aku dan tak mengenali mobilku.” Sementara ia
berkata seperti, temannya menjawab, “Yah, apa bedanya. Tuhan juga tahu
kita ada di sini …” Si majelis pun menyahut, “Ya, tetapi Tuhan tidak
akan memberi tahu isteriku.”
Dapatkah Anda mengambil makna rohani dari cerita tersebut? Ya, orang
yang lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan. Bukankah ini
tipikal orang Kristen yang sering kita jumpai. Benar bahwa ia adalah
orang yang setia dan tak pernah berselingkuh, hanya saja itu dilakukan
bukan karena ia takut kepada Tuhan tapi takut kepada isterinya yang
super galak. Kalau saja isterinya tidak super galak, bisa jadi ia akan
mencoba-coba sedikit.
Jika kita melakukan kebenaran Firman Tuhan, hendaknya itu didasari
karena kita hidup takut akan Tuhan, bukan karena alasan lain. Jika
prinsip hidup kita adalah takut akan Tuhan, maka kita tidak akan mau
melakukan dosa, meski saat itu tidak ada seorang pun juga yang melihat
dan mengawasi kita. Kita tidak akan pernah melakukan dosa secara
sembunyi-sembunyi, karena kita tahu persis bahwa ada sepasang mata yang
pasti akan melihat apa pun juga yang kita lakukan.
Ah, seandainya banyak orang memiliki prinsip seperti ini. Tak akan
pernah ada korupsi. Tak akan pernah ada perselingkuhan. Tak akan pernah
ada percabulan. Tak akan pernah ada kecurangan. Tak akan pernah
penipuan. Tak akan pernah ada kejahatan. Tak akan pernah ada
kemunafikan. Tak akan ada kepura-puraan. Tak akan ada kebusukan. Tidak
ada tempat untuk menyembunyikan dosa dari mata Tuhan. Kamera surgawi
yang terus menyorot hidup kita dua puluh empat jam! Bahkan yang tak
hanya menyorot, tapi juga mampu menyelidiki sampai kedalaman hati kita.
Di hadapan manusia, bisa saja kita terlihat sosok yang rohani. Bisa
saja saya terlihat sebagai penulis yang saleh, tapi saya sadar bahwa
saya begitu telanjang di hadapan Tuhan. Kata-kata seindah dan serohani
apapun yang saya rangkai, tak akan pernah bisa menutupi keadaan saya
yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Sebab itu saya memilih takut kepada
Tuhan. Anda juga demikian, bukan?
Marilah kita koreksi diri, dengan dasar apakah kita berbuat baik dan tak melakukan dosa?
(Kwik)
» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit
Posted in Religion | No Comments »
December 13th, 2007 by b1ue
| 13 Desember 2007 |
 |
| Bacaan: Markus 4:35-41 |
| Ia pun bangun, menghardik angin itu … - Markus 4:39 |
Dalam hidup itu ada banyak hal yang secara mengejutkan tiba-tiba
saja terjadi. Melihat keadaan bangsa ini, siapa yang menyangka bahwa
bangsa ini bisa terpuruk sedemikian hingga. Hal yang sama juga dialami
oleh murid-murid Yesus ketika mereka berlayar. Alkitab mencatat bahwa
sekonyong-konyong datanglah badai dan membuat kapal mereka akan
tenggelam. Ini masalah besar! Tapi toh kemudian cerita itu berakhir
dengan happy ending dan mereka pun selamat. Apa yang membuat kisah itu
jadi happy ending?
1. Penyertaan Yesus.
Petrus adalah pelaut yang sudah ahli dan
cukup berpengalaman. Meski demikian ia tak mampu juga melawan badai dan
angin taufan yang datangnya secara tiba-tiba. Ia bahkan tak mampu
memprediksinya. Bersyukur Yesus ada bersama dengan mereka saat itu.
Angin dan badai itu tidak diredakan oleh keahlian melaut Petrus dan
murid yang lain, tapi justru didiamkan oleh Yesus. Jika Yesus ada dalam
kehidupan kita, maka badai kehidupan seperti apapun juga akan reda.
2. Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya.
Dari kisah tersebut
kita bisa menyimpulkan bahwa pertolongan Tuhan selalu tepat pada
waktunya. Di saat kritis dan perahu itu hampir tenggelam, Tuhan Yesus
dibangunkan dan dengan segera meredakan badai tersebut. Yesus tidak
pernah terlalu cepat dalam menolong kita. Tapi Ia juga tidak pernah
terlambat untuk menolong kita. Ia menolong kita selalu tepat pada
waktunya. Apakah saat ini kita memiliki masalah dan persoalan hidup
yang rasanya sulit untuk diatasi? Percayakanlah kepada Yesus, maka Ia
akan menolong kita tepat pada waktuNya.
3. Belajar rendah hati.
Untung saja Petrus tidak terus mencoba
dengan kekuatannya sendiri untuk mencoba mengendalikan perahu yang
hampir tenggelam itu. Setelah ia menyadari bahwa keahlian dan
pengalamannya selama bertahun-tahun dalam melaut sama sekali tak
menolong banyak, barulah ia sedikit rendah hati dan membangunkan Yesus
yang waktu itu tidur di buritan. Hanya Yesus yang bisa menolong!
Demikian juga kita ketika sedang berada dalam masalah. Apakah kita
cukup rendah hati untukmenyerahkannya kepada Tuhan?
Sertakan Tuhan ketika “hal-hal mengejutkan” terjadi dalam hidup Anda!
(dr. Djoko Mulyono)
» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit
Posted in Religion | No Comments »